Sudah Berimankah Kita?

By | February 6, 2014

Sudah Berimankah Kita?

#Mohammad Fauzil Adhim

Mari sejenak kita renungi hadis Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

“Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan orang yang jorok omongannya.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, dll).

Sungguh, sangat berbeda orang yang menunjukkan keburukan seseorang karena alasan yang haq dengan memperolok, menghinakan dan melaknat, meski untuk orang yang sama dan untuk keadaan yang sama. Ada beberapa keadaan yang Islam izinkan bagi kita untuk menuturkan keburukan orang lain, misalnya saat seseorang bertanya perihal orang yang ingin menikahinya. Itu pun kita hanya berhak menyampaikan sebatas yang diperlukan dan tidak terjatuh kepada memperolok dan menghinakan.

iman kuatJika kita memenuhi hari-hari kita dengan banyak mencela, terlebih menggunakan perkataan-perkataan jorok tentang seseorang, sudah sepatutnya kita bertanya, adakah kita sudah benar-benar beriman?

Jika kita merasa nyaman dan menikmati status FB, tweet dan berbagai perkataan yang jorok, kasar dan menghinakan, sudahkah kita beriman?

Boleh jadi seseorang itu memang buruk. Tetapi manakala kita melampaui batas –dari yang seharusnya sekedar menunjukkan keburukannya semata-mata hanya untuk alasan yang benar, berubah menjadi mengumbar perkataan buruk bahkan untuk hal-hal yang tidak diperkenankan– maka jangan terhenyak jika keadaan justru berbalik dari yang kita harapkan. Apalagi jika yang kita lakukan bukan menunjukkan keburukan dalam persoalan yang relevan saja, tetapi terjatuh pada caci-maki dan olok-olok jorok bahkan untuk semua urusan.

Amru bil ma’ruf dan nahy munkar, betapa memerlukan ilmu. Juga kesabaran dalam menjalani, termasuk sabar dalam mengekang lidah.

O Allah…, ampunilah hamba-Mu ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *